Perjalanan Menuju Kematian (Bag ke-2)

Bookmark and Share
Oleh: Ulis Tofa, Lc

Kirim Print
Duhai yang memisahkan orang-orang tercinta
Duhai rumah dunia, aku pasti meninggalkanmu
Duhai yang menggrogoti hari-hari, ada apa dengan angan-anganmu
Duhai sakaratul maut yang pasti terjadi, kenapa kau masih tertawa
Kenapa kau tidak menangis, menangisi dirimu
Jika tidak, kepada siapa kau menangis ?
Ingat, adakah yang hidup tanpa direnggut kematian
Namun, keyakinan mana yang sekarang ini ditutupi keraguan ?


dakwatuna.com - Penggalan syair di atas dimuat di dalam buku Al Isti’dad lilmauti wasualul qabri menggambarkan peristiwa yang pasti akan menggunjang setiap manusia. Yaitu kematian. Kematian yang pasti terjadi, namun sering terlupakan dan dilupakan. Padahal kematian sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw semestinya menjadi nasehat yang mampu menyentuh qalbu yang paling dalam, ”Kafa bilmauti wa’idha, Cukuplan peristiwa kematian seseorang menjadi penasehat.”

Bahwa semua kita pasti akan mengakhiri didupnya adalah sebuah kepastian. Allah swt berfirman :
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” Ali Imran:185

Saat sakaratul maut menjelang, saat itulah kondisi dahsyat dan mengerikan dialami setiap orang. Diriwayatkan dari Makhul, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : ”Sungguh jika satu lembar rambut dari rambut-rambutnya orang yang meninggal dunia menimpa penduduk langit dan bumi, niscaya mereka semua akan mati dengan izin Allah swt.”

Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim as ketika meninggal dunia, Allah bertanya kepadanya: ”Apa yang kamu rasakan ketika ajal menjelang ? Ia menjawab : ”Rasanya seperti ada sebatang besi yang bergerigi tajam di dalam daging basah, kemudian besi itu ditarik dengan keras.” Allah berfirman: Aku telah meringankan ajal kepadamu.”

Dalam riwayat yang lain, nabi Musa as ditanya Allah swt bagaimana kondisi ia saat ajal menjelang ? Ia menjawab : ”Saya seperti seekor domba hidup yang sedang dikuliti oleh tukang cincang.”

Kondisi dahsyat itulah yang menyebabkan para sahabat radhiyallahu anhum saling bertanya di antara mereka. Semangatnya adalah agar mereka dapat mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling baik, yaitu husnul khatimah.

Adalah Umar ra bertanya kepada Ka’ab tentang maut. Ka’ab menjawab : ”Ia ibarat ranting yang banyak durinya, dimasukkan ke dalam tenggorokan seseorang, duri-duri itu menyayat-nyatat dinding tenggorokan. Kemudian ranting berduri itu ditarik sekeras-kerasnya.”

Sahabat Ali ra ketika memobilisasi pasukan perang memberikan pidato pelepasan pasukan, ia berkata: ”Jika kalian tidak terbunuh, kalian akan tetap mati, sungguh aku bersumpah, demi Dzat yang jiwa Muhamamd berada di dalam genggaman-Nya, seribu tusukan pedang jauh lebih ringan dari pada meninggal di atas dipan.” (Al Isti’dad lilmaut wa sualul qabri, Jilid 1, Halaman 7)

Sakaratul Maut Seorang Muslim

Kondisi sakaratul maut seseorang sesuai dengan kebaikan atau keburukannya dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Bagi seorang muslim, sakaratul maut akan menjadi titik awal kenikmatan abadi di alam berikutnya.

Ketika sakaratul maut itu, datanganlah beribu-ribu Malaikat. Mereka berhenti sejauh mata memandang. Hanya ada dua Malaikat yang mendekat kepadanya, sambil membawa haanut, semacam kain kafan yang sangat halus dan wangi. Dikatakan kepadanya:

”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhoi, masuklah dalam golongan-golongan hamba-hamba-Nya, dan masuklah ke dalam surga-Nya.”

Kemudian ruhnya dicabut dan dibungkus dalam kain haanut tersebut, dibawa kembali ke barisan ribuan Malaikat yang sudah tidak sabar menanti memegang haanut tersebut. Semua Malaikat memegangnya sekalipun sekelebatan, karena saking banyaknya jumlah para Malaikat berebut.

Ruh itu diiring mereka ke atas langit. Dikatakan di sana, ”Ruh siapa ini? Harumnya semerbak mewangi. Dijawab, ”Ini ruh Fulan bin Fulan bin Fulan” dan disebutlah namanya. Kemudian Allah swt memerintahkan kepada Malaikat: ”Catat ia termasuk ahlul yamin, wa ash habul illiyyin, golongan kanan dan yang memperoleh derajat tinggi.”

Kemudian ruh itu dikembalikan ke jasadnya saat ia dikuburkan. Ketika itu ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kubur dengan fasih dan lancar. Karenanya datanglah pemuda ganteng atau gadis cantik. Ketika ditanya, siapa kamu? Ia menjawab : ”Ana ’amalukas shalih ; Akulah amal shalih kamu saat di dunia” (At Tadzkirah lil Imam Al Qurthubi)

Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda:

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إن العبد الصالح ليعالج الموت وسكراته وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول السلام عليك تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة).

”Sesungguhnya hamba yang shalih ketika menghadapi sakaratul maut sendi-sendinya saling memberi salam satu kepada yang lainnya, berkata: ”Keselamatan atasmu, kamu meninggalkanku dan aku meninggalkanmu sampai bertemu kembali di hari kiamat.”

Sakaratul Maut Sang Pendosa

Berbeda dengan seorang muslim yang shalih, mendapatkan kehormatan saat ruhnya menghadap Allah swt., seorang pendosa atau ahli maksiat akan diserbu para Malaikat. Hanya dua Malaikat yang mendekat dengan membawa kain kafan yang sangat jelek dan baunya minta ampun. Dikatakan kepadanya dengan sangat kasar: ”Keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah, enyahlah kamu ke neraka yang menyala-nyala.”
Saat itulah nyawanya dicabut dengan sangat keras, sekeras-kerasnya, kemudian dijadikan lemparan, tiada yang sudi membawanya. Nyawa itu tidak diperkenankan mendekati langit. Ditanyakan ruh siapa ini ? Dijawab, ”Ruh Fulan bin Fulan bin Fulan, dan disebutlah namanya”. Kemudian dibacakan ayat :

”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” Al A’raf:40

Allah swt memerintahkan untuk dicatat dalam golongan ashhabul yasar wa ahlus sijjin, golongan kiri, golongan yang menempati tempat paling hina.

Nyawanya kemudian dikembalikan ke jasadnya saat dalam kuburan. Ketika itu ditayakan kepadanya : Siapa Tuhan-mu ? Siapa Nabimu ? Apa pedomanmu ? Dan pertanyaan-pertanyaan kubur lainnya. Ia hanya bisa menjawab : hah… hah… hah…

Datanglah seseorang yang sangat jelek mukanya lagi menakutkan. Ia bertanya, Siapa kamu ini ? Ia menjawab: ”Ana ’amalukas suu’, saya amal jelek kamu saat di dunia.” Wal iyadhu billah.

Allah swt berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” Al An’am:93

Ayat di atas di tafsirkan oleh Imam Ath Thobari dengan ayat yang lain dalam surat Muhammad : 27-28

“Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka?. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Tafsir Ath Thobari, Jilid 11, Halaman 537)

Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim as berkata kepada Malaikat maut:

ويروى أن إبراهيم الخليل قال لملك الموت هل تستطيع أن تريني الصورة التي تقبض فيها روح الفاجر؟ قال أتطيق ذلك؟ قال بلى فأعرض ثم التفت فإذا هو رجل أسود الثياب قاتم الشعر منتن الريح يخرج من فيه ومناخره لهب النار والدخان فغشى على إبراهيم ثم أفاق وقد عاد ملك الموت إلى صورته الأولى فقال يا ملك الموت لو لم يلق الفاجر إلا صورة وجهك لكان ذلك حسبه.

“Apakah Engkau bisa memperlihatkan kepada saya sosok Engkau ketika mencabut nyawa orang pendosa ? Ia menjawab: “Apakah kamu kuat menahan ? Ibrahim menjawab: Ya. Kemudian Malaikat berpaling dan kembali lagi menghadap, ketika itu sosok Malaikat berubah menjadi laki-laki berbaju hitam, rambut yang mengerikan, bau yang busuk, api dan asap keluar dari mulutnya. Seketika Ibrahim pingsan tidak sadarkan diri. Kemudian Malaikat kembali ke wujud semula. Sewaktu Ibrahim siuman ia berkata: “Wahai Malaikat maut, jika seorang pendosa melihat wajah Engkau saja, pasti cukuplah itu menakutkan baginya.”

Semoga Allah swt mewafatkan kita dalam kondisi husnul khatimah, termasuk golongan orang-orang shalih yang mendapatkan ampunan dan ridha-Nya, amin. Allahu a’lam


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/perjalanan-menuju-kematian-bag-2/



Share

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar