KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX

Bookmark and Share
BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati, tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar (essensial), berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit (Depkes RI, 2005).
Hasil kajian berbagai studi menyatakan bahwa vitamin A merupakan zat gizi yang essensial bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting dan konsumsi makanan kita cenderung belum mencukupi dan masih rendah sehingga harus dipenuhi dari luar. Pada anak balita akibat KVA (Kekurangan Vitamin A) akan meningkatkan kesakitan dan kematian, mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia, dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak sangat serius dari KVA adalah buta senja dan manifestasi lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan kornea dan kebutaan. Vitamin A bermanfaat untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan, karena vitamin A dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi seperti campak, diare, dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Ibu nifas yang cukup mendapat vitamin A akan meningkatkan kandungan vitamin A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi yang disusui lebih kebal terhadap penyakit. Disamping itu kesehatan ibu lebih cepat pulih. Upaya perbaikan status vitamin A harus mulai sedini mungkin pada masa kanak-kanak terutama anak yang menderita KVA (Depkes RI, 2005).
Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. Di seluruh dunia (WHO, 1991), diantara  anak-anak pra sekolah diperkirakan terdapat sebanyak 6-7 juta kasus baru xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih 10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup 25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta. Diperkirakan pada satu waktu sebanyak 3 juta anak-anak buta karena kekurangan vitamin A, dan sebanyak 20-40 juta menderita kekurangan vitamin A pada tingkat lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara anak yang kekurangan dan tidak kekurangan vitamin A kurang lebih sebesar 30% (Almatsier, 2003).
Penelitian yang dilakukan World Health Organization (WHO) tahun 1992 menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur enam bulan hingga lima tahun, setengahnya menderita kekurangan vitamin A. Sedangkan data WHO tahun 1995 menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang tingkat pemenuhan terhadap vitamin A tergolong rendah  (www.sinarharapan.com, 2005).
Sementara studi yang dilakukan Nutrition and Health Surveillance System (NHSS), dan Departemen Kesehatan (2001) menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia usia 12-23 bulan tidak mengkonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan sehari-hari. Siti Halati, Manajer Lapangan Operasional HKI, mengatakan angka kecukupan gizi (AKG) anak balita sekitar 350 Retinol Ekvivalen (RE).            Angka ini dihitung dari kandungan vitamin A dalam makanan nabati atau hewani yang dikonsumsi.
Departemen Kesehatan sendiri gencar melakukan program penanggulangan kekurangan vitamin A sejak tahun 1970-an. Menurut catatan Depkes, tahun 1992 bahaya kebutaan akibat kekurangan vitamin A mampu diturunkan secara signifikan. (www.sinarharapan.com, 2005).
Menurut data yang didapatkan dari Puskesmas Semuli Raya tahun 2006 diketahui bahwa cakupan jumlah pemberian vitamin A pada balita sebanyak 75% dari jumlah target yang diharapkan sebesar 90%.  Kemudian dari 12 posyandu yang ada terdapat 2 kasus balita dengan buta senja yang masing-masing berada di Posyandu Anggrek dan Posyandu Melati.  Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah kunjungan dengan pemberian vitamin A terbanyak yaitu di Posyandu Anggrek yang berjumlah 42 orang balita.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Vitamin A di Posyandu Anggrek di Wilayah Kerja Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara”.

1.2              Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.2.1        Menurut data yang didapat dari Puskesmas Semuli Raya tahun 2006 ternyata masih rendahnya cakupan jumlah pemberian vitamin A pada balita sebanyak 75% dari jumlah target yang diharapkan sebesar 90%
1.2.2        Ditemukan 2 kasus balita dengan buta senja di Posyandu Anggrek dan Melati.

1.3              Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut: "Bagaimanakah pengetahuan Ibu yang memiliki balita tentang Vitamin A di Posyandu Anggrek di Wilayah Kerja Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara Tahun 2007?".

1.4              Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Ibu tentang Vitamin A di Posyandu Anggrek di Wilayah Kerja Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara
1.4.2        Tujuan Khusus
1.      Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang pengertian vitamin A
2.      Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang manfaat vitamin A
3.      Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang akibat kekurangan vitamin A
4.      Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang jadual pemberian vitamin A
5.      Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang makanan yang mengandung sumber vitamin A

1.5              Pertanyaan Penelitian
1.5.1        Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang pengertian vitamin A?
1.5.2        Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang manfaat vitamin A?
1.5.3        Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang akibat dari kekurangan   vitamin A?
1.5.4        Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang jadual pemberian     vitamin A?
1.5.5        Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang makanan yang mengandung sumber vitamin A ?

1.6              Manfaat Penelitian
1.6.1        Bagi ibu-ibu di Posyandu Anggrek
Sebagai bahan masukan untuk ikut berperan serta dalam kegiatan pelaksanaan pemberian vitamin A bagi bayi dan balita.
1.6.2        Bagi Puskesmas Semuli Raya
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk dapat meningkatkan cakupan pemberian vitamin A.
1.6.3        Bagi Akademi Kebidanan Wira Buana Metro
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi Institusi sebagai data dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya.
1.6.4        Bagi Peneliti
Dapat mengetahui pengetahuan Ibu tentang Vitamin A di Posyandu Anggrek di Wilayah Kerja Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara.

1.7              Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup peneliti dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1.7.1      Jenis Penelitian         : Deskriptif
1.7.2      Objek Penelitian       :  Pengetahuan Ibu tentang Vitamin A di Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara
1.7.3      Subjek penelitian      :    Ibu-ibu yang mempunyai balita yang mendapat vitamin A di Posyandu Anggrek wilayah kerja Puskesmas Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara
1.7.4      Lokasi Penelitian      : Puskesmas Semuli Raya Kabupaten Lampung Utara
1.7.5      Waktu Penelitian      : April - Mei 2008
1.7.6      Alasan Penelitian      :  Karena cakupan jumlah pemberian vitamin A pada balita di Puskesmas Semuli Raya tidak sesuai target, hanya 75% dari 90% yang ditargetkan.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar